UA-136443515-1
Indonesia Berpeluang Kembangkan Minyak Goreng

Usli Sarsi

MENKO Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, minyak kelapa sawit merupakan industri yang strategis. Pemerintah pun mengeluarkan sejumlah aturan untuk memperkuat daya saing komoditas, seperti produksi minyak goreng berbahan kelapa sawit.

Mungkinkah dengan mengembangkan minyak goreng pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh lebih maju? Berikut itu petikan wawancara dengan Direktur Utama PT Mahkota Group Usli Sarsi.

Analisa: Industri minyak goreng berbahan kelapa sawit sudah banyak. Perusahaan Anda sebagai pendatang baru dalam pengolahan minyak goreng, apakah Anda melihat bisnis ini punya potensi?

Usli: Kita melihat penduduk Indonesia terus bertambah. Itu berarti permintaan goreng akan terus bertambah. Bila kapasitas produksi yang sekarang tidak bertambah, maka kebutuhan minyak goreng dalam negeri bisa berkurang. Sekarang saja, kapasitas produksi minyak goreng boleh dikatakan kurang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri karena harus ekspor juga.

Analisa: Bagaimana dengan ekspor Crude Palm Oil (CPO), apa tidak terganggu?

Usli: Selama ini Indonesia mengekspor hasil perkebunan kelapa sawit berbentuk bahan mentah berupa CPO. Kemudian CPO dari Indonesia, di luar negeri diolah menjadi bahan jadi, salah satunya minyak goreng. Bayangkan saja negara-negara pengimpor CPO seperti China dan India berani menginvestasikan puluh juta dolar AS untuk mendirikan pabrik minyak goreng. Lantas mengapa kita tidak berani?Padahal bahan bakunya sangat banyak tersedia.

Dari sini kita melihat ketergantungan bahan baku tinggi sekali. Kalau Indonesia banyak memiliki pabrik minyak goreng, maka hasil perkebunan kelapa sawit bisa di­olah menjadi bahan jadi untuk ekspor. Dengan begitu harga jual bisa lebih tinggi. Selain itu menambah lapangan kerja dan pendapatan negera meningkat. Bila pro­duksi minyak goreng Indonesia banyak, otomatis pabrik di luar negeri akan berhenti. Negara-negara yang selama ini pengimpor CPO cukup membeli minyak goreng da­lam bentuk curah dari Indonesia.

Dari segi harga tentu lebih menguntungkan daripada mengimpor CPO dan mengolah minyak goreng. Dari segi kualitas, minyak goreng produksi Indonesia lebih baik daripada di luar negeri.

Analisa: Apa alasannya minyak goreng Indonesia lebih baik?

Usli: Begini. CPO bahan baku untuk produksinya masih mengandung zat asam. CPO tidak bisa disimpan lama karena zat asamnya bisa naik. Semakin tinggi zat asamnya, maka harga CPO bisa turun. Semakin banyak zat asam, semakin banyak CPO yang harus dibuang. Memang zat asam di dalam CPO masih dapat dipergunakan untuk produksi sabun. Hanya nilainya akan turun. Bayangkan bila CPO langsung diolah menjadi minyak goreng di Indonesia, maka dapat memperkecil zat asam pada CPO.

Sementara bila CPO diekspor, pasti zat asamnya akan lebih banyak karena lama dalam perjalanan. Selain itu, bila CPO diolah menjadi minyak goreng, maka lebih lama bertahan karena sudah melalui penyaringan sehingga tidak ada lagi zat asamnya.

Saat ini kita memiliki 26 tangki penampungan. Masing-masing berkapasitas 3 ribu ton. Tentu semakin banyak minyak goreng yang bisa disimpan dalam waktu lama. Jadi tidak ada yang terbuang sia-sia.

Analisa: Indonesia penghasil CPO terbanyak. Faktanya harga CPO ditentukan Malaysia dan Belanda. Apa mungkin Indonesia bisa mementukan harga?

Usli: Ini menyangkut kepercayaan. Harus kita akui, saat ini Malaysia dan Belanda masih dipercaya dalam menentukan harga CPO karena mereka mampu menjaga kualitas CPO. Jadi kalau kita bisa melakukan hal sama, pasti pasar akan percaya. Tentu saja untuk mendapatkan kepercayaan tidak bisa instan, butuh waktu.

Analisa: Bila banyak CPO diolah di Indonesia menjadi bahan jadi, apa tidak mengurangi permintaan ekspor?

Usli: Justru bila CPO semakin banyak diolah menjadi bahan jadi, itu akan lebih baik. Saat permintaan CPO di luar negeri banyak, sementara ketersedian CPO untuk ekspor sedikit, maka harga CPO bisa naik. Agar pabrik yang ada di luar negeri bisa tetap beroperasi, mau tidak mau harus ada bahan baku. Berapa pun harga CPO akan dibeli. Tentu saja yang paling diuntungkan adalah petani, pabrik CPO, dan pabrik olahan CPO.

Bila ini terjadi, jelas ekonomi Indonesia dapat tumbuh cepat. Saya melihat pemerintah ingin CPO dapat diolah di dalam negeri. Biodiesel 20 persen atau B20 salah satu upaya pemerintah untuk menyerap CPO. Pemerintah sudah mewajibkan 20 persen biodiesel dalam solar, bila tidak akan diberi sanksi.

Bahkan pemerintah sudah berencana melakukan percepatan menjadi B30. Bayangkan bila ini dilakukan, penyerapan CPO tidak saja untuk minyak goreng untuk konsumsi manusia, tapi mesin juga mempergunakan CPO. Pemerintah Indonesia juga meminta China menerapkan B5 agar ramah lingkungan.

Analisa: Faktanya meski dolar naik, harga jual tandan buah segar (TBS) pada petani justru turun?

Usli: Mengapa hal itu bisa terjadi, padahal 80 persen CPO di ekspor? Semestinya harga TBS juga naik. Persoalan yang terjadi pada kuartal ke-3 produksi sawit meningkat 3 kali lipat. Pada saat kondisi produksi melimpah, banyak PKS yang tidak berani berproduksi karena tangki penimbunan yang dimiliki sudah penuh. PKS tidak berani menimbun lebih banyak karena CPO tidak bisa bertahan lama disimpan.

Karena banyak PKS yang menolak, akhirnya petani menjual TBS dengan harga murah karena takut busuk. Jika dalam 3 hari TBS tidak diolah, maka akan busuk dan harganya turun. Inilah persoalan yang terjadi. Jadi bukan petani saja yang rugi, tapi juga PKS. Karena itu satu-satunya cara kelapa sawit diolah menjadi bahan jadi, sehingga bisa bertahan lebih lama.

Analisa: Mungkinkah negara lain bisa mengimbangi hasil CPO Indonesia?

Usli: Tidak ada negara yang bisa menghasilkan CPO dalam jumlah banyak. Tanaman kelapa sawit hanya tumbuh di daerah yang memiliki dua musim. Daerah yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Selain kelapa sawit, minyak nabati seperti bunga matahari, kedelai, dan beberapa jenis tanaman lainnya bisa diolah jadi minyak goreng. Tapi secara produksi, minyak goreng dengan bahan baku kelapa sawit jauh lebih murah. Ini potensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. (fahrin malau)

Sumber: (http://harian.analisadaily.com/jentera/news/indonesia-berpeluang-kembangkan-minyak-goreng/647103/2018/11/11)