UA-136443515-1
Perusahaan ‘Go Public’ Lebih Menguntungkan

Medan, (Analisa). Minat perusahaan keluarga untuk menjadi emiten (Perusahaan publik) masih sangat sedikit. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 25 Oktober 2018 perusahaan emiten baru sebanyak 47 perusahaan. Jumlah ini sedikit meningkat bila dibandingkan tahun lalu hanya 46 perusahaan.

“Jumlah emiten di Indonesia masih berada di DKI Jakarta sebanyak 537 perusahaan, Jawa Barat dan Banten 78, Jawa Timur 39, Jawa Tengah dan DIY 11, Sumatera 13 dan Indonesia Tengah dan Timur 10 perusahaan,” ungkap Rizky pada acara Sosialisasi Proses Penawaran Umum Go Public yang digelar PT Panin Sekuritas Cabang Medan bekerjasama dengan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumbagut kepada para pengusaha anggota Perhimpunan INTI Sumatera Utara di Kantor OJK, akhir pekan lalu.

Dari 13 perusahaan emiten di Sumatera, tambahnya, sebanyak tujuh perusahaan berada di Sumatera Utara.

Kepala PT Panin Sekuritas, Darmin mengungkapkan banyak perusahaan keluarga yang bangkrut karena generasi berikutnya tidak mampu menjalankan perusahaan dengan baik.

“Siapa yang tidak kenal dengan perusahaan jamu Nyonya Meneer. Dulu perusahaan ini diakui memiliki manajemen terbaik. Tapi akhirnya perusahaan ini bangkrut. Kalau perusahaan ini beralih ke perusahaan publik mungkin sampai sekarang bisa bertahan,” sebut Darmin.

Kepala Kantor OJK Regional 5 Sumbagut Lukdir Gultom sebelum membuka acara menjelaskan OJK akan membantu para pengusaha yang ingin perusahaannya go public. Apalagi sekarang aturan untuk menjadi perusahaan terbuka pemerintah sudah melakukan kelonggaran.

Dana Segar

Direktur Utama PT Mahkota Group Tbk (MGRO) Usli Sarsi memaparkan pengalaman yang dilakukan dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan terbuka.

Usli Sarsi menyebutkan MGRO melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dengan melepas 20% sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI)  tanggal 12 Juli 2018.

Pada kesempatan itu, Usli Sarsi mengungkapkan, harga saham MGRO, meningkat tajam yakni dari Rp225 per lembar saham saat IPO  menjadi Rp550 per lembar saham pada posisi 9 November 2018, atau meningkat sekitar 144%. 

Ini salah satu cara untuk mendapatkan dana segar. Dengan mendapatkan dana segar dari pihak bank banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Apalagi waktu pinjaman hanya lima sampai enam tahun. Ini sangat tidak mungkin di perusahaan sawit. Belum lagi memperoleh laba, sudah harus bayar hutang.

“Kemungkinan MGRO akan mengalami hal buruk yakni perolehan labanya  semakin anjlok jika tidak melakukan IPO,” sebutnya.

Perolehan laba perusahaan sulit meningkat  bahkan semakin merosot, apalagi dikaitkan dengan kondisi perkembangan bisnis sawit dewasa ini.

Usli menyebutkan pihaknya sudah merancang pengembangan (ekspansi) khususnya memasuki hilirisasi industri sawit  mendukung ajakan pemerintah memproduksi bahan bakar minyak bercampur biodisel 20% (B20).

Merasakan pengalaman menggembirakan MGRO setelah ber-reinkarnasi menjadi go public,  Usli Sarsi mengajak peserta sosialisasi agar secepatnya berubah menjadi perusahaan terbuka.

Banyak hal menguntungkan yang  diperoleh jika menjadi perusahaan terbuka yakni sustainable (keberlangsungan perusahaan), transparansi (keterbukaan) dalam pengelolaan  perusahaan, popularitas perusahaan meningkat dan lainnya. 

Menjawab pertanyaan eksekutif PT Mabar Feed tentang hal sulit yang dihadapi perusahaan keluarga  untuk bertransformasi menjadi go public, Usli Sarsi menyebutkan salah satu kesulitannya adalah menyamakan pandangan.  “Menyiasati hal tersebut kita undang ahli untuk membeberkan manfaat dan keunggulan perusahaan terbuka,” saran Usli Sarsi. (rin)

Sumber: (http://harian.analisadaily.com/ekonomi/news/perusahaan-go-public-lebih-menguntungkan/648522/2018/11/14)