UA-136443515-1
PROSPEK EMITEN PERKEBUNAN : Dua Kebijakan Jadi Katalis Positif

Analis Panin Sekuritas Cheria Widjaja menyampaikan bahwa dalam jangka pendek saham emiten sawit mendapat sentimen positif dari pelonggaran tarif ekspor. Pungutan menjadi ditiadakan bila harga global berada di bawah US$500 per ton.

“Penghapusan tarif ekspor memang positif bagi emiten sawit. Namun, hal ini belum signifikan bagi harga global, karena suplai masih banyak, sedangkan permintaan tidak terlampau tinggi,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (27/11).

Pada penutupan perdagangan Selasa (27/11), Indeks Perkebunan (JAKAGRI) naik 0,34% menuju 1.446,10. Lima saham utama yang mendorongnya ialah PT Andira Agro Tbk. (ANDI) dengan peningkatan 9,36%, PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) 3,73%, PT BISI International Tbk. (BISI) 2,29%, PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) 0,86%, dan PT Mahkota Group Tbk. (MGRO) 1,71%.

Adapun, harga CPO di Bursa Malaysia kontrak teraktif Februari 2019 merosot 0,51% menjadi 1.962 ringgit (US$468,40) per ton. Ini menjadi level terendah baru pada 2018 dan menunjukkan pelemahan 26,29% secara year-to-date (ytd).

Menurut Cheria, kondisi surplus suplai CPO juga terjadi kepada minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai akibat perang dagang AS dan China. Setiap produk minyak nabati saling memengaruhi, sehingga kondisi pasarnya saat ini cenderung negatif.

Pada 2019, kondisi pasar CPO diperkirakan membaik seiring dengan meningkatnya penyerapan CPO untuk program B20. Volume permintaan akan meningkat menuju 6 juta kilo liter dari tahun ini sekitar 2 juta kilo liter.

Namun, surplus suplai diperkirakan masih membayangi sehingga harga CPO 2019 diperkirakan sekitar 2.300 ringgit per ton. Saham-saham yang cukup menarik ialah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dengan target harga Rp1.310, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) Rp12.400, PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) Rp550, SGRO Rp2.350, dan MGRO Rp640.“Saham LSIP yang kami perkirakan paling menarik,” imbuhnya.

LSIP merupakan perusahaan yang berfokus di industri hulu dengan memaksimalkan perkebunan internal. Dengan demikian, setiap kenaikan harga CPO akan langsung terefleksikan ke peningkatan pendapatan.

Analis Danareksa Sekuritas Yudha Gautama menuturkan, sentimen peringanan pajak ekspor CPO belum secara signifikan mendorong harga saham emiten terkait. Pasalnya, kebijakan ini masih dipelajari dampaknya oleh pelaku pasar.

Adapun, penurunan harga yang terjadi pada kuartal IV/2018 dapat menekan kinerja keuangan emiten perkebunan. Walaupun ada peluang volume penjualan CPO meningkat, faktor harga sangat memengaruhi.

“Emiten komoditas seperti perkebunan sangat terimbas harga. Kalau CPO lagi turun, pendapatan dan laba juga tertekan. Mudah-mudahan 2019 bisa lebih baik,” imbuhnya.

Pada 2019, diperkirakan harga CPO dapat mengalami perbaikan menuju kisaran 2.550 ringgit per ton. Sebelumnya, Danareka memerkirakan harga CPO 2018 di posisi 2.700 ringgit per ton, tetapi realisasinya di bawah itu.

Sentimen yang mendorong harga ialah peningkatan permintaan dari penerapan program B20. Selain itu, awal tahun menjadi periode panen rendah (low corp), sehingga volume persediaan dapat semakin berkurang.

“Kalau low corp, harapannya persediaan bisa turun. Biasanya pelaku pasar memang lebih mempertimbangkan tingkat persediaan untuk memprediksi pasar CPO,” tuturnya.

Menurut Yudha, saham CPO yang paling menarik pada 2019 ialah AALI dan LSIP dengan target harga masing-masing Rp16.300 dan Rp2.000. Selanjutnya, saham SGRO juga cukup prospektif dengan target Rp3.000.

Dalam laporannya, analis senior Maybank Kim Eng Ong Chee Ting menyampaikan, peringanan pajak ekspor CPO di Indonesia memberikan sentimen positif, khususnya kepada pemain di industri hulu seperti LSIP. Emiten lain yang dapat diperhatikan ialah AALI dan DSNG.