UA-136443515-1
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Dunia Industri

ANGKA pengangguran dari para sarjana mening­kat. Ketersediaan lapangan kerja di dunia industri tidak mampu dijawab para sarjana. Semen­tara banyak pekerjaan yang telah digantikan mesin. Pe­luang kerja pun semakin sempit.

Bagaimana perguruan ting­gi menjawab tantangan agar para lulusan sukses meraih la­pangan kerja dan juga mem­buka peluang kerja? Berikut ini petikan wawancara dengan Ketua Yayasan Pen­didikan Mahkota Tricom, Usli Sarsi.

Analisa: Mengapa dunia industri tidak banyak menye­rap tenaga kerja dari lulusan sarjana dibandingkan dengan lulusa SMA?

Usli: Saya tidak bisa menyimpulkan itu, karena belum ada data yang menunjukkan hal tersebut. Mungkin secara umum kelihatannya seperti itu. Mengapa demikian? Banyak faktornya. Misalnya soal pengalaman kerja dan disiplin ilmu yang dimiliki para sarjana tidak mampu menjawab kebutuhan industri. Misalnya sarjana teknik mesin, tidak memiliki kemampuan mengoperasikan mesin-mesin yang ada di industri. Sarjana akuntansi sering kesulitan melakukan pembukaan perusahaan dan sebagainya.

Minimnya pengalaman kerja itu, menyebabkan industri lebih memilih tenaga kerja yang sudah berpengalaman. Sementara tenaga kerja lulusan SMA umumnya bekerja di tempat yang tidak memerlukan keahlian khusus yang bisa dipelajari secara cepat.

Analisa: Mengapa lulusan sarjana tidak mampu menjawab kebutuhan industri?

Usli: Ini tidak terlepas dari proses pembelajaran di perguruan tinggi. Bila pembelajarannya hanya bersifat teoritis dan tidak melihat perkembangan industri pemberi lapangan kerja, dapat dipastikan akan sulit menjawab kebutuhan industri. Di sinilah menunjukkan bahwa perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan tidak bisa dipisahkan dari perkembangan industri yang menyediakan lapangan kerja.

Analisa: Mengapa dunia industri dan dunia pendidikan terkesan berjalan sendiri-sendiri?

Usli: Sebenarnya tidak. Keduanya saling membutuhkan. Perguruan tinggi menghasilkan tenaga kerja, sedangkan industri menyediakan lapangan kerja. Beberapa perguruan tinggi berhasil menjalin kerjasama dengan industri. Bahkan beberapa industri juga memiliki perguruan tinggi. Ini menjadi nilai tambah, sehingga lulusannya dapat langsung bekerja atau setidaknya memiliki kemampuan kerja di industri lain.

Analisa: Kalau perguruan tinggi dan industri tidak saling mendukung?

Usli: Tentu dikhawatirkan semakin banyak sarjana yang tidak mampu menjawab kebutuhan industri. Saat ini saja jarak antara perguruan tinggi dan industri semakin jauh. Apalagi perkembangan yang begitu cepat. Sekarang ini mesin sudah banyak menggantikan kerja manusia. CEO Alibaba, Jack Ma pernah mengatakan apapun pengetahuan kalian yang diperoleh dengan susah payah kalau dapat digantikan dengan teknologi akan sia-sia. Semua itu semakin nyata dan terbukti.

Tapi walau teknologi berkembang pesat, tidak semua pekerjaan bisa digantikan mesin. Misalnya kemampuan dalam mengambil keputusan, loyalitas, kejujuran, leadership. Bahkan beberapa perguruan tinggi sudah memasukkan entrepre­neuship dalam perkuliahan. Perguruan tinggi tidak saja menghasilkan lulusan yang mencari pekerjaan, tapi juga lulusan yang mampu membuka lapangan kerja. Untuk menjadi entrepreneuship tidak cukup hanya intelligence quotients (IQ/ kemampuan pengetahun), tapi juga emotional quotients (EQ/kemampuan emosional) dan juga spiritual quotients (SQ/ketaatan beragama). Tanpa kemampuan ketiganya, tidak akan melahirkan SDM yang aandal dan unggul.

Analisa: Bagaimana dengan peran pemerintah?

Usli: Tentu saja pemerintah memiliki peran penting dalam menjembatani dunia pendidikan dengan dunia industri. Pemerintah sebagai fasilitator. Sehingga dunia pendidikan dan dunia industri saling mendukung dalam melahirkan SDM yang unggul dan andal. Pemerintah bisa menjembatani melalui kebijakan. Bila hanya dunia pendidikan yang mendekati dunia industri akan lebih sulit tanpa kehadiran pemerintah.

Analisa: Apa harapan Anda terhadap sarjana?

Usli: Saya berharap perguruan tinggi mampu menghasilan SDM yang andal dan unggul. Tidak saja menjawab kebutuhan industri tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru. (fahrin malau)

Sumber : harian.analisadaily.com