UA-136443515-1
Meneropong Kiprah Mahkota Group di Bisnis Hilir

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Mahkota Group Tbk (MGRO) tengah fokus untuk mengembangkan bisnis di sektor hilir.

Perusahaan dengan kode emiten MGRO ini akan mengoperasikan pabrik refinery melalui anak usahanya, PT Intan Sejati Andalan, dan kernel crushing plant di Dumai pada Juni tahun ini.

Pabrik ini nantinya akan menghasilkan minyak goreng dengan kapasitas produksi 1.500 ton per hari, sementara kernel crushing plant bakal menghasilkan minyak inti sawit sebesar 400 ton per hari.

Melalui anak usaha, PT Dumai Pracipta Abadi, perseroan akan menambah tangki timbun dengan kapasitas sebesar 20.000 metrik ton, saat ini mereka memiliki tangki timbun dengan kapasitas 76.000 ton.

Guna melancarkan fokus bisnis, yaitu hilirisasi dengan membangun pabrik refinery serta menambah tangki timbun tersebut, perseroan sudah menyiapkan belanja modal sebesar Rp200 miliar. Dana diperoleh dari hasil dana IPO dan sebagian dari pinjaman bank.

Untuk membangun pabrik itu, perseroan memerlukan dana sebesar Rp330 miliar, yang mana dana dari hasil IPO sebesar Rp90 miliar, Rp120 miliar dari kas internal, serta Rp120 miliar dari pinjaman bank.

Dengan beroperasinya pabrik tersebut, MGRO membidik pendapatan sebesar Rp5 triliun naik sekitar 150% dengan laba bersih sebanyak Rp123 miliar. Sepanjang tahun lalu, perseroan berhasil memperoleh pendapatan sebesar Rp2 triliun. 

Berdasarkan laporan keuangan MGRO pada kuartal III 2018, perseroan mengantongi pendapatan sebesar Rp1,46 triliun naik 19% ketimbang periode yang sama 2017 sebesar Rp1,23 triliun.

Pendapatan mereka dari penjualan CPO sebesar Rp1,1 triliun, sampai September 2018 mereka berhasil membukukan laba sebanyak Rp45,41 miliar.

Sedangkan analis Panin Sekuritas, William Hartanto, mengatakan, kinerja PT Mahkota Group Tbk (MGRO) diprediksi akan positif seiring meningkatnya aset emiten perkebunan ini.

"Dengan meningkatnya aset MGRO pada enam bulan pertama tahun lalu, maka diperkirakan kinerja keuangan akan ikut meningkat," katanya dalam risetnya.

William menilai, pembangunan pabrik refinery penghasil minyak goreng tentu akan membantu menopang kinerja perusahaan di masa mendatang.

Namun, ia melihat kinerja MGRO akan menemui hambatan dari harga Crude Palm Oil (CPO) yang masih rendah dan trennya melemah.

"Maka, saya kira produk pengolahan kelapa sawit yang sekarang sudah berjalan bisa dijadikan untuk antisipasi, karena harga bahan baku sedang rendah maka kelapa sawitnya perlu diolah supaya harga jual lebih tinggi lagi," papar dia.

Dari sisi saham, ia merekomendasikan untuk membeli saham MGRO dengan target harga hingga Rp500 per saham. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Sumber : https://www.borneonews.co.id/berita/120605-meneropong-kiprah-mahkota-group-di-bisnis-hilir